Father (II)

facebook.com_2014-07-11_04-32-25

Salah satu teman kampusku menulis sebuah status di facebook seperti itu. Aku tau dia galau masalah orang tuanya, karena dia sudah beberapa kali menulis status semacam itu di facebook. Aku hanya bisa tersenyum getir membaca statusmu, teman. Percayalah, ada yang lebih buruk dari nasibmu. Ada yang lebih parah dari orang tuamu.Dari status dan komentar-komentar yang kamu tulis, mungkin aku bisa menebak apa masalahnya walaupun tidak selengkap dan sedetail yang sebenarnya. Yang aku tangkap, orang tuamu adalah orang tua yang ‘kaku’, melarangmu bermain ke luar rumah atau melarang teman untuk bermain ke rumahmu. Padahal, menurutku, kamu itu cowok, seharusnya wajar atau seharusnya diperbolehkan kalau ingin bermain ke luar rumah. Toh setauku, kamu bukan tipe bad guy, kamu sebenearnya tipe anak yang penurut dan gak neko-neko. Iya nggak? Setauku, kamu itu kalem banget, cuman memang kamu agak ‘gila’, tapi gilamu itu masih wajar. Bahkan tetanggaku, kadang-kadang dia sering pulang malam pukul 01.00 dini hari dan sepertinya dia tidak dimarahi oleh ibunya. Jadi, aku ngga tau teman, kenapa orang tuamu seperti itu.

Memang kita bukan sahabat atau teman dekat. Mungkin kamu pikir aku kurang ajar banget nulis post ini dan mencantumkan statusmu, tapi aku hanya ingin memberi tahumu teman, ada yang lebih parah dari orangtuamu. Orangtuamu melarang kamu bermain ke luar? Itu aja kah atau ada yang lain?

 facebook.com_2014-07-11_04-33-47

Sebenarnya, kita sebagai anak cuma ingin rasa nyaman, dilindungi, dan disayangi kan? Ada seorang anak yang merasa dia tidak mendapatkan rasa itu di rumah. Sama seperti kamu. Namun, dia tidak mempermasalahkan orang tuanya yang melarangnya untuk bermain ke luar rumah, karena memang sejak kecil dia jarang bermain ke luar rumah. Sejak SD hingga SMA, dia sudah masuk ke sekolah favorit. Namanya juga sekolah favorit, jadi dia harus ‘hafal’ semua isi materi pelajaran. Belum lagi, pekerjaan rumah yang banyak. Waktu itu dia tidak mempermasalahkan itu. Siapa yang tidak bangga bisa sekolah di sekolah-sekolah favorite? Yah, paling tidak dia harus menghabiskan masa kecil, masa bermainnya.

Di waktu SD, dia tidak mempunyai masalah apa-apa dengan orang tunya. Dia masih anak tunggal. Cerita mulai berbeda ketika dia masuk SMP, ketika dia sudah punya dua adik. Masih di SMP favorit. Namun rasa-rasanya, orang tuanya tidak pernah bangga. Dia merasa orang tuanya tidak pernah mengatakan, ‘aku sayang kamu nak’ literally. Dia merasa orang tuanya itu menuntut dia untuk sempurna. DIa sudah capek, sebenarnya.

SMA. Dan diapun mulai membangkan, karena dia merasa entah dia mau berlaku baik atau berlaku buruk, orang tuanya sama aja. Gak pernah menghargai apa yang dia lakukan.

Kamu tau kenapa dia membangkang?

Nah, teman, orang tuamu saat melarangmu atau saat kamu melakukan kesalahan hanya menatapmu dengan sinis atau penuh kebenciankah? Dia, selain mendapat tatapan sinis dan kebencian itu, pasti kena pukul. Oleh seorang ayah. Iya, seorang ayah. Yang seharusnya memberi perlindungan kepada anaknya, tetapi malah memberi rasa kebencian kepada anaknya. Kamu pernah tau rasanya dipukul. Biar aku yang menceritakannya. Rasanya mungkin tidak beberapa sakit, mungkin sehari atau sejam sudah sembuh, tetapi yang dihati tidak pernah sembuh.

Ibunya? Apa yang beliau lakukan? Tidak ada. Mungkin beliau hanya berkata, ‘ la kamu se membangkan sama orang tua, …’ bla bla bla panjang. Lalu beliau menasihati dia seakan-akan dia yang disakiti, seakan-akan dia yang dipukul, seakan-akan orang tua tidak pernah salah. Tidak pernah salah teman, bayangkan, emang dewa?

Jujur, dia benci ayahnya sekarang. Dia benci dipukul. DI benci dibilang goblok. Dia benci dibilang bodo. Dia benci dibilang anak pembangkang. Dia benci menangis sendirian, tidak ada ibu yang mengerti. Dia benci adik-adiknya yang masih kecil. Dia benci, sahabatnya yang hilang entah kemana. Dia benci merasa sendirian.

Mungkin sebagai anak dia tidak boleh membenci ayahnya. Nglamak kata orang jawa. Namun, dia benci dipukul. Lantas, dia harus bagaimana?

Lalu, dia juga baca komentar teman kita ini:

 facebook.com_2014-07-11_05-33-08

Satu kata: bijaksana. Namun, dia tidak tahu rasanya teman. TIdak tahu apa yang dia rasakan selama bertahun-tahun. Dia sudah mulai dari cara yang sabar, cara aksi diam, cara apapun. Sama saja. Tidak bisa mengubah pola berpikir orang tuanya yang kaku. Bahkan dia pernah di tampar oleh ayahnya karena sok-sok kritis.

Sudah lama dia menunggu orang tuanya untuk berubah, tapi rasanya itu butuh keajaiban dari Tuhan. Pernah, sering dia berbuat baik keapada orang-tuanya, tetapi ketika dia berbuat kesalahan, ibunya malah berkata, ‘oh, kumat.’ Apa-apaan? Emang dia pesakitan? Emang dia orang sakit jiwa yang kadang bisa kambuh bisa nggak.

Kalau kamu bertanya sama dia, iya, dia stres, jenuh, dan capek. Sudah lama dia ingin melarikan diri, tetapi mau kemana, dia tidak punya siapa-siapa. Dia hanya ingin .. Ah sudahlah.

Kalau kamu berfikir, dia stres, lalu dia tidak berbuat apa-apa, tidak teman. Dia jadikan itu motivasinya. Dia belajar giat, agar bisa segera bekerja dan keluar dari rumah itu.

Mungkin orang tuamu dan dia bisa berubah, mungkin tidak. Namun, mungkin kalian masih termasuk beruntung, karena mereka tidak menjual kalian di jalanan demi sesuap nasi. Mereka tidak menjual harga diri kalian demi hidup. Mereka tidak menyuruh kalian untuk mengamen di jalanan atau apalah. Bisa jadi kalian termasuk beruntung, karena masih bisa makan enak, tidur di kasur, dan bisa kuliah. Bisa jadi kalian termasuk beruntung, karena orang tua kalian masih hidup.

Sebenci-bencinya dia kepada ayahnya, she has no ide what will happen to her if their parents die.

Jadi, cuma itu yang bisa aku sampaikan. Semoga bisa mengurangi rasa galaumu sedikit teman, karena kamu nggak sendirian. Nggak cuman kamu yang orang tuanya ‘beda’. :)

About these ads

leave your comment please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s